Incognito

Incognito merupakan grup musik acid jazz asal Inggris. Incognito terdiri dari Jean Paul Maunick atau Bluey, Matt Cooper, Francis Hylton, Pete Ray Biggins, Sid Gauld, Trevor Mires, Paul Greenwood, Tony Momrelle, Joy Rose, Imaani, Maysa Leak, Richard Bull, Simon Cotsworth, Graham Harvey, Dominic Oakenfull, Julian Crampton, dan Richard Bailey (busyet! ni main musik apa arisan??) Dimotori oleh gitaris Jean-Paul “Bluey” Maunick, Incognito sangat handal dalam mengolah musik bernuansa acid jazz yang penuh dengan beat dinamis. Musik mereka yang meleburkan unsur funk, soul, R&B, hip hop serta musik latin, telah membuat nama Incognito begitu dikenal di seluruh dunia dan menjadikan mereka sebagai salah satu pionir munculnya aliran jazz funk pada akhir tahun 80-an. Tidak cuma itu, aksi panggung mereka juga mampu memukau penonton yang hadir dalam setiap konser – konsernya. Hal inilah yang menjadikan semua konser Incognito selau ditunggu tunggu oleh pengemarnya.

Single pertama Incognito berjudul “Parissienne Girl” yang sempat tembus peringkat 73 tangga lagu Inggris. Sebagai band yang baru terbentuk, ini merupakan prestasi yang membanggakan bagi mereka. Lagu ini ada dalam mini album Incognito yang berjudul ”Jazz Funk” dimana pada saat itu Paul “Tubbs” Williams dan Jean Paul ”Bluey” Maunick bersama-sama menjadi motor Incognito. Tak lama setelah Jazz Funk beredar di pasaran, Paul Williams memutuskan untuk pindah ke Finlandia. Padahal ia sudah bekerja sama dengan Bluey selama hampir sepuluh tahun. Awalnya mereka bersama-sama membentuk grup musik beraliran disko funk yang diberi nama “Light of the World”. Mereka juga sempat merilis ulang lagu Bob Marley, “I Shoot The Sheriff” pada akhir 70an.
Setelah merilis LP ketiga yang berjudul “Check Us Out”, Paul William dan Bluey sepakat untuk mengganti nama “Light Of the World “menjadi INCOGNITO. Walaupun akhirnya mereka berpisah, tetapi semangat Bluey untuk mengibarkan bendera Incognito tidak pernah surut. Terbukti pada tahun 91, single “Always There” berhasil masuk dalam 10 besar lagu terlaris di Inggris. Lagu ini ada dalam album kedua mereka yang berjudul “Inside Life”. Talkin’ Loud merupakan label yang menaungi Incognito saat itu. Sang pemilik label yang juga seorang DJ, Gilles Peterson, merupakan fans berat Incognito. Kesuksesan Always There diikuti dengan kesuksesan “Don’t You Worry ‘Bout a Thing”. Lagu ini merupakan cover version dari karya Stevie Wonder yang menjadi salah satu panutan bermusik ”Bluey” Maunick. Mungkin sebagian orang menganggap ini adalah karya asli Incognito karena Don’t You Worry ’Bout A Thing menjadi sangat terkenal saat dibawakan oleh Incognito. Lagu ini ada dalam album mereka yang berjudul Tribes Vibes + Scribes. Popularitas Don’t you Worry ’Bout A Thing menjadikannya sebagai salah satu soundtrack film Hitch. Dalam film ini, Don’t You Worry Bout the Thing diaransemen ulang oleh John Legend. Sentuhan dan suara khas John Legend mampu memberikan warna baru pada lagu ini.

Salah satu lagu sukses mereka yang lain adalah “Talkin’ Loud” dari album “Positivy”. Lagu ini memiliki judul yang sama dengan nama label yang menaungi mereka pada album Inside Life. Ini mungkin menjadi tanda kembalinya mereka ke label tersebut karena pada album sebelumnya mereka berada dibawah label Polygram. Di album ketiga ini, Incognito kembali mencetak hits dengan lagu “Still A Friend Of Mine”. Siapa yang nggak kenal lagu ini?? Album Positivity dianggap sebagai album yang paling sukses dari ketiga album yang pernah dirilis oleh Incognito karena album ini tidak hanya bisa diterima dengan baik di Inggris, tapi juga di hampir seluruh Eropa.

Bluey Maunick memiliki peran yang sangat besar dalam Incognito. Gitaris kelahiran Mauritius, 19 Februari 1957 ini sudah mendengarkan berbagai jenis musik sejak kecil. Kepindahan keluarganya ke London saat ia berumur 10 tahun tidak mengendurkan semangatnya. Disana ia selalu berusaha untuk dapat melihat konser musisi Amerika yang manggung seperti, Weather Report, Kool and the Gang, Tower of Power dan the Doobie Brothers dan juga Earth Wind & Fire.

Selain Bluey Maunick, kita tidak bisa begitu saja melupakan keunikan personel-personel Incognito yang lain. Karena semua personel yang ada dibelakang instrumennya masing-masing juga mempunyai kontribusi yang berarti bagi nama Incognito. Keyboard Matt Cooper seringkali mengejutkan dan mengeluarkan suara-suara yang tidak biasa. Suara Maysa Leak, yang tebal, berat dan bertenaga juga bisa mengimbangi perpaduan instrumen yang ada. Yang tidak kalah bagusnya juga ada vocal yang prima dari Tony Monrelle, Imaani dan Jocelyn Brown.

Sejak berdiri hampir 3 dekade lalu, Incognito cukup produktif merilis album. Dimulai dari album “Jazz Funk” di tahun 1981, disusul dengan album album berikutnya yang jaraknya sekitar satu sampai dua tahun, sampai di tahun 2008 dengan album “Tales From The Beach”. Semuanya boleh dibilang mencetak angka penjualan yang cukup fantastis untuk sebuah grup jazz.

Gonta ganti personil dalam sebuah band merupakan hal yang wajar terjadi dalam industri musik. Tak terkecuali pada Incognito. Sempat terjadi pergantian vokalis mulai dari Pamela Anderson (bukan yang kemana mana bawa “pepaya bangkok”, mikir mode!), Joy Malcolm, Barry Stewart, kemudian Maysa Leak dan terakhir Kelli Sae, Sarah Brown, Nia, dan Xavier Barnett. Pergantian perganian personil ini tidak membuat Incognito kehilangan sentuhan istimewa pada musik yang mereka mainkan.

Album terbaru Incognito yang dirilis bulan Februari kemarin berjudul “Tale From the Beach”. Ada berita yang mengatakan bahwa untuk mendapatkan inspirasi dalam membuat album ini, Bluey Maunick, gitaris sekaligus motor Incognito, pergi ke beberapa pantai favoritnya. Padahal tercatat sejak tahun 2007, Incognito manggung di lebih dari 25 negara di dunia. Masih sempet ya si Bluey jalan-jalan nyari inspirasi… Nah, kabarnya, lagu-lagu di album ini direkam di beberapa negara yaitu: Itali, jerman, Inggris dan Indonesia, bahkan dimixed di JAKARTA. Album ini berisi 15 track yang seger dan cukup enak buat goyang goyang. (dangdut kaleee!).  Kalo kita dengerin jadi berasa kaya di pantai kali ya.. …

Racikan musik yang mengekspresikan sebuah kebebasan bermusik selama perjalanan kurang lebih 30 tahun membuat Incognito tetap eksis di jalurnya dan selalu maju dan menemukan hal hal baru dalam meramu nuansa dari sekian banyak musik. Incognito ingin menyampaikan bahwa suatu pesan dalam musik adalah sesuatu yang lebih penting dibandingkan dengan individu yang memainkannya. Dan perubahan perubahan yang mereka lakukan dalam setiap albumnya snegaja mereka lakukan agar penggemar mereka selalu penasaran denagn album albumnya.

(Thx buat Andri yang udah bantuin nulis)

Add comment September 25, 2008

Nonton Sinetron?? Mau???

Pada sering nonton Sinetron Ramadhan nggak?? Beberapa tahun ini emang trend sinetron Ramadhan udah gak begitu booming. Beda sama 10 tahunan yang lalu, waktu duet Krisdayanti dan Dicky Wahyudi begitu ditunggu tunggu kemunculannya di RCTI setiap nungggu buka di “Doaku Harapanku”. Waktu itu, hampir semua orang Indonesia tahu dan hafal dengan jalan cerita sinetron ini. Bahkan, muncul “icon” Ibu Ibu judes/sadis dan semacamnya, Laely Sagita (bener nggak ya??) yang jadi mertuanya Krisdayanti di sinetron ini. Dan seperti biasa, di Indonesia (dengan otak bisnis hiburan orang orang India), kalau ada sinetron yang laris, pasti dipanjang panjangin. Doaku Harapanku juga iya, berlanjut di tahun berikutnya. Tahun tahun berikutnya muncul pasangan Anjasmara – Krisdayanti, dan Anjasmara – Tamara Blezsensky di sinetron sinetron serupa, yang di tahun tahun belakangan ini harus rela digusur wajah wajah baru.

Sekarang?? Sinetron Ramadhan masih jadi andalan stasiun stasiun TV buat dipajang di slot prme time menjelang buka puasa. Tapi masihkah kita excited nunggu sinetron sinetron itu? (jawab sendiri sendiri). Kalau saia, nggak banget! Bosen sama sinetron sinetron kita (kita???). Kenapa?? Setiap hari kita (kita???) dijejali dengan sinetron sinetron stripping dengan muka muka itu itu saja, yang aktingnya lempeng. (sedih, seneng, nangis, marah, gitu gitu juga, yang penting INDO!) Huwh!

Carissa Putri & Marshanda dalam "Aqso dan Madina" (Pic. From Sinemart.com)

Carissa Putri & Marshanda dalam Aqso dan Madina (Pic from sinemart.com)

Udah gitu, saking sibuknya si “bintang bintang” sinetron itu, sampai muncul ilmu baru dalam dunia sinematografi, dimana satu adegan yang dimainkan oleh dua orang atau lebih bisa di-shoot orang per orang, tidak dalam satu yang bersamaan. Hasilnya??? Garing, datar!. Minggu kemarin saia baca ulasan di Suara Merdeka yang juga ngomongin masalah ini. Contoh nyata, lihat aja sinetron “Tasbih Cinta” yang tayang setiap hari menjelang buka puasa. Hampir semua adegan yang seharusnya dimainkan bersama sama dua orang pemain atau lebih, di-shoot orang per orang, tidak bersamaan. Hasilnya??? Ancur! Atau sinetron “Aqso dan Madina” episode 20 September, di mana ada adegan Marshanda datang ke rumah malam malam, ketemu dengan Mamah-nya (Lily SP) dan saling pegangan tangan, berasa sangat “hambar” dan janggal karena masing masing hanya di-shoot sebatas wajah dan separuh badan dengan tangan menghadap ke arah bawah kamera. Dangkal! Segampang itukah proses penggarapan sinetron sinetron kita (kita???) sekarang ini?? Contoh lain tentu saja banyak! Kalau sudah begini, masih seneng nongkrongin sinetron???

5 comments September 21, 2008

Pencerahan 01

Malesssssss banget buat bangun subuh subuh barang 5 – 10 menit buat shalat subuh?? Kayaknya ini masalah jamak kebanyakan orang termasuk saia. Tapi kalo pas bulan puasa gini?? Beda dong! Kita udah bangun dari jam tiga pagi, jadi shalat subuh (harusnya) nggak ketinggalan. Tadi malem, saia dapet sedikit pencerahan dari Kultum (Kuliah Tujuhbelas Menit) abis taraweh mengenai shalat subuh. Salah satu isinya nyebutin kalau yang paling bagus buat para pria adalah SHALAT SUBUH BERJAMAAH DI MASJID. Sedangkan buat para istri/wanita adalah shalat subuh di rumah, tepat waktu. Dan ternyata ada banyak keutamaan dari shalat subuh. Salah satunya adalah, shalat subuh berjamaah di masjid untuk para pria, maknanya (keutamannya) seperti kita shalat semalaman. Sedangkan shalat isya berjamaah di masjid, maknanya (keutamaannya) sama seperti kita shalat setengah malam. Keren yah…….

(Ini saia tulis apa yang bisa saia rekam di otak kecil saia)

Add comment September 20, 2008

Mudik Yuwk…..

H-14 menjelang lebaran, pasti orang orang udah pada ribet buat mudik. Dari mulai nyari nyari oleh oleh, nelpon stasiun, agen bis sama travel yang biasanya naikin harga gila gilaan. Yang paling kasian adalah kalo pada kena calo. Makanya, banyak orang bela belain pesen tiket jauh jauh hari. Untungnya, saia mudik ke arah barat yang berarti berlawanan dengan arus mudik (yang kebanyakan dari barat ke timur). Tapi tetep aja rame! Jalan macet di mana mana! Tarif angkutan naik!

Tapi paling nggak, bisa bersyukur, karena nggak perlu pake pesen pesen tiket segala. Bayangin aja, orang orang yang harus telepon sana telepon sini, ngantri lama lama buat dapetin tiket mudik. Belum lagi, kalo kena CALO! Uwh! Bayangin aja udah males. Cuman, yang pengen saia ceirtain di sini adalah konsdisi sarana transport kita (kita??) yang makin hari bukannya makin bagus, tapi malah banyak yang ancur! Kereta, bolak balik anjlok. Bis, banyak yang bobrok plus sopir yang ugal ugalan plus calo tiket yang nyari nyari kesempatan narikin duit sebanyak banyaknya! Gila tuw calo! Coba kalo ada bus umum yang semewah bus-nya Bayern Munchen, yang harganya hampir 7M?!? Pesaawat?? Sering kena masalah juga. Yang mendarat nggak di landasan pacu-lah, yang delay karena ijin bermasalah-lah, sampai tiket yang susah dibalikin padahal penerbangan ga jadi karena ijin operasi dicabut. Parah!
Terus, enaknya gimana ya??? Pake MOBIL PRIBADI. Jelas! Cuman, ini nggak membumi. (???) Pake trevel, boleh juga. Tapi biasanya gila gilaan naiknya. Sempet ada trevel yang naikin tarif sekitar 200% lho! Gila ya?!? Mudik pake motor?? Seru juga! Tapi serem, apalagi kalo bawaannya banyak. Pernah denger kan, ada balita yang meninggal karena ikut orang tuanya mudik pake motor? Kasian ya……

Jadi…. enaknya gimana?? mudik apa nggak? Tetep Mudik dong! Itung itung nyari pengalaman desek desekan sama orang. Ikut ngrasain panas panasan dengan beragam aroma parfum dari yang harganya 5000an sampe yang ratusan ribu. (Kalo yang parfumnya jutaan, pasti mudik pake Mobil Pribadi). Pengalaman – pengalaman tadi nggak bisa dibeli. Nggak bisa didapetin di mana mana! Jadi, berbahagialah kita (kita??) yang punya pengalaman;
1.  Susahnya berebut tiket,
2.  Cek cok sama orang gara gara rebutan kursi di kereta,
3.  Nahan nafas karena aroma keringat campur makanan bayi dan sisa      metabolisme-nya yang sering bikin eneg.

Add comment September 20, 2008

Next Posts Previous Posts


Kategori

Tulisan Terakhir