Posts filed under 'Movie & TV'
Nonton Sinetron?? Mau???
Pada sering nonton Sinetron Ramadhan nggak?? Beberapa tahun ini emang trend sinetron Ramadhan udah gak begitu booming. Beda sama 10 tahunan yang lalu, waktu duet Krisdayanti dan Dicky Wahyudi begitu ditunggu tunggu kemunculannya di RCTI setiap nungggu buka di “Doaku Harapanku”. Waktu itu, hampir semua orang Indonesia tahu dan hafal dengan jalan cerita sinetron ini. Bahkan, muncul “icon” Ibu Ibu judes/sadis dan semacamnya, Laely Sagita (bener nggak ya??) yang jadi mertuanya Krisdayanti di sinetron ini. Dan seperti biasa, di Indonesia (dengan otak bisnis hiburan orang orang India), kalau ada sinetron yang laris, pasti dipanjang panjangin. Doaku Harapanku juga iya, berlanjut di tahun berikutnya. Tahun tahun berikutnya muncul pasangan Anjasmara – Krisdayanti, dan Anjasmara – Tamara Blezsensky di sinetron sinetron serupa, yang di tahun tahun belakangan ini harus rela digusur wajah wajah baru.
Sekarang?? Sinetron Ramadhan masih jadi andalan stasiun stasiun TV buat dipajang di slot prme time menjelang buka puasa. Tapi masihkah kita excited nunggu sinetron sinetron itu? (jawab sendiri sendiri). Kalau saia, nggak banget! Bosen sama sinetron sinetron kita (kita???). Kenapa?? Setiap hari kita (kita???) dijejali dengan sinetron sinetron stripping dengan muka muka itu itu saja, yang aktingnya lempeng. (sedih, seneng, nangis, marah, gitu gitu juga, yang penting INDO!) Huwh!
Udah gitu, saking sibuknya si “bintang bintang” sinetron itu, sampai muncul ilmu baru dalam dunia sinematografi, dimana satu adegan yang dimainkan oleh dua orang atau lebih bisa di-shoot orang per orang, tidak dalam satu yang bersamaan. Hasilnya??? Garing, datar!. Minggu kemarin saia baca ulasan di Suara Merdeka yang juga ngomongin masalah ini. Contoh nyata, lihat aja sinetron “Tasbih Cinta” yang tayang setiap hari menjelang buka puasa. Hampir semua adegan yang seharusnya dimainkan bersama sama dua orang pemain atau lebih, di-shoot orang per orang, tidak bersamaan. Hasilnya??? Ancur! Atau sinetron “Aqso dan Madina” episode 20 September, di mana ada adegan Marshanda datang ke rumah malam malam, ketemu dengan Mamah-nya (Lily SP) dan saling pegangan tangan, berasa sangat “hambar” dan janggal karena masing masing hanya di-shoot sebatas wajah dan separuh badan dengan tangan menghadap ke arah bawah kamera. Dangkal! Segampang itukah proses penggarapan sinetron sinetron kita (kita???) sekarang ini?? Contoh lain tentu saja banyak! Kalau sudah begini, masih seneng nongkrongin sinetron???
5 comments September 21, 2008
Hi…. serem……
Saia heran, belakangan makin banyak ajah ’setan’ yang ngetop. Ada suster ngesot, kuntilanak merah, hantu jeruk purut, hantu kereta manggarai, hantu ambulance, dan masih banyak lagi temen-temennya. Fyuhhhhh!!!!! Gila nggak siy! banyak banget produser produser film yang hobinya nakut nakutin orang di bioskop. Tapi…… apa bener orang orang pada takut??? Banyak yang ngomong, kalo film horor Indonesia lebih jago ngagetin daripada nakutin.
Dan parahnya, banyak orang yang suka dikagetin. Bener ngak??? Makanya nggak heran kalo ‘film film ngagetin’ ini masih banyak yang suka. (saia nggak!) Tapi tau ngak siy?? nggak ada satupun film horor Indonesia yang dapet penghargaan di FFI. Yes!!! Yah…. wapaupun sebenernya nggak penting juga sih… dapet award apa nggak di FFI. (FFI????… hari gini????) Yang penting, kata produser produser film Indonesia (yang kebanyakan dari India), mereka ngikutin pasar. JAdi kalo masih banyak orang orang yang suka ditakut takutin (baca:dikagetin) ya…. masih akan sering kita lihat ’setan-setan’ lokal nampang di mall – mall (baca:bioskop).
Kalo ngomongin film horor, ada satu film horor yang saia inget banget! The Omen. Dulu banget (ya… nggak banget banget amat siy sebenernya….. 90 something deh), jaman masih SD, nonton di TVRI, Film Cerita Akhir Pekan (oh…. miss that time). Terus, ternyata tahun kemaren kalo gak salah film itu di-remake. Tapi sayang, saia belum nonton. Yang jelas The Omen versi pertama, dirilis tahun 1976. Beberapa pemain pendukung film ini, ada Gregory Peck, Lee Remick, David Warner, Harvey Stephens, Billie Whitelaw. Ceritanya diangkat dari novel laris karya David Seltzer, yang juga menggarap skenario dari film ini.
Satu hal yang menarik dari film ini yang juga menjadi perbincangan di luar negeri adalah bahwa film ini, katanya membawa kutukan bagi beberapa orang yang terlibat dalam pembuatan film ini. Tercatat ada beberapa kejadian tragis yang menimpa beberapa kru film “The Omen”, diantaranya adalah Penulis naskah, David Seltzer yang tersambar kilat, ada juga salah satu kru yang namanya Richard Donner yang menginap di sebuah hotel dan hotel itu di bom dan meledak. Ada juga, pesawat yang tadinya akan dinaiki oleh sutradara film The Omen, Gregory Peck yang meledak dan menewaskan semua penumpang. Untungnya, Gregory Pecktidak jadi naik pesawat tersebut. Dan masih banyak lagi. Nggak tahu juga sih, bener atau nggaknya.
Add comment Juni 12, 2008
