Incognito
September 25, 2008
Incognito merupakan grup musik acid jazz asal Inggris. Incognito terdiri dari Jean Paul Maunick atau Bluey, Matt Cooper, Francis Hylton, Pete Ray Biggins, Sid Gauld, Trevor Mires, Paul Greenwood, Tony Momrelle, Joy Rose, Imaani, Maysa Leak, Richard Bull, Simon Cotsworth, Graham Harvey, Dominic Oakenfull, Julian Crampton, dan Richard Bailey (busyet! ni main musik apa arisan??) Dimotori oleh gitaris Jean-Paul “Bluey” Maunick, Incognito sangat handal dalam mengolah musik bernuansa acid jazz yang penuh dengan beat dinamis. Musik mereka yang meleburkan unsur funk, soul, R&B, hip hop serta musik latin, telah membuat nama Incognito begitu dikenal di seluruh dunia dan menjadikan mereka sebagai salah satu pionir munculnya aliran jazz funk pada akhir tahun 80-an. Tidak cuma itu, aksi panggung mereka juga mampu memukau penonton yang hadir dalam setiap konser – konsernya. Hal inilah yang menjadikan semua konser Incognito selau ditunggu tunggu oleh pengemarnya.
Single pertama Incognito berjudul “Parissienne Girl” yang sempat tembus peringkat 73 tangga lagu Inggris. Sebagai band yang baru terbentuk, ini merupakan prestasi yang membanggakan bagi mereka. Lagu ini ada dalam mini album Incognito yang berjudul ”Jazz Funk” dimana pada saat itu Paul “Tubbs” Williams dan Jean Paul ”Bluey” Maunick bersama-sama menjadi motor Incognito. Tak lama setelah Jazz Funk beredar di pasaran, Paul Williams memutuskan untuk pindah ke Finlandia. Padahal ia sudah bekerja sama dengan Bluey selama hampir sepuluh tahun. Awalnya mereka bersama-sama membentuk grup musik beraliran disko funk yang diberi nama “Light of the World”. Mereka juga sempat merilis ulang lagu Bob Marley, “I Shoot The Sheriff” pada akhir 70an.
Setelah merilis LP ketiga yang berjudul “Check Us Out”, Paul William dan Bluey sepakat untuk mengganti nama “Light Of the World “menjadi INCOGNITO. Walaupun akhirnya mereka berpisah, tetapi semangat Bluey untuk mengibarkan bendera Incognito tidak pernah surut. Terbukti pada tahun 91, single “Always There” berhasil masuk dalam 10 besar lagu terlaris di Inggris. Lagu ini ada dalam album kedua mereka yang berjudul “Inside Life”. Talkin’ Loud merupakan label yang menaungi Incognito saat itu. Sang pemilik label yang juga seorang DJ, Gilles Peterson, merupakan fans berat Incognito. Kesuksesan Always There diikuti dengan kesuksesan “Don’t You Worry ‘Bout a Thing”. Lagu ini merupakan cover version dari karya Stevie Wonder yang menjadi salah satu panutan bermusik ”Bluey” Maunick. Mungkin sebagian orang menganggap ini adalah karya asli Incognito karena Don’t You Worry ’Bout A Thing menjadi sangat terkenal saat dibawakan oleh Incognito. Lagu ini ada dalam album mereka yang berjudul Tribes Vibes + Scribes. Popularitas Don’t you Worry ’Bout A Thing menjadikannya sebagai salah satu soundtrack film Hitch. Dalam film ini, Don’t You Worry Bout the Thing diaransemen ulang oleh John Legend. Sentuhan dan suara khas John Legend mampu memberikan warna baru pada lagu ini.
Salah satu lagu sukses mereka yang lain adalah “Talkin’ Loud” dari album “Positivy”. Lagu ini memiliki judul yang sama dengan nama label yang menaungi mereka pada album Inside Life. Ini mungkin menjadi tanda kembalinya mereka ke label tersebut karena pada album sebelumnya mereka berada dibawah label Polygram. Di album ketiga ini, Incognito kembali mencetak hits dengan lagu “Still A Friend Of Mine”. Siapa yang nggak kenal lagu ini?? Album Positivity dianggap sebagai album yang paling sukses dari ketiga album yang pernah dirilis oleh Incognito karena album ini tidak hanya bisa diterima dengan baik di Inggris, tapi juga di hampir seluruh Eropa.
Bluey Maunick memiliki peran yang sangat besar dalam Incognito. Gitaris kelahiran Mauritius, 19 Februari 1957 ini sudah mendengarkan berbagai jenis musik sejak kecil. Kepindahan keluarganya ke London saat ia berumur 10 tahun tidak mengendurkan semangatnya. Disana ia selalu berusaha untuk dapat melihat konser musisi Amerika yang manggung seperti, Weather Report, Kool and the Gang, Tower of Power dan the Doobie Brothers dan juga Earth Wind & Fire.
Selain Bluey Maunick, kita tidak bisa begitu saja melupakan keunikan personel-personel Incognito yang lain. Karena semua personel yang ada dibelakang instrumennya masing-masing juga mempunyai kontribusi yang berarti bagi nama Incognito. Keyboard Matt Cooper seringkali mengejutkan dan mengeluarkan suara-suara yang tidak biasa. Suara Maysa Leak, yang tebal, berat dan bertenaga juga bisa mengimbangi perpaduan instrumen yang ada. Yang tidak kalah bagusnya juga ada vocal yang prima dari Tony Monrelle, Imaani dan Jocelyn Brown.
Sejak berdiri hampir 3 dekade lalu, Incognito cukup produktif merilis album. Dimulai dari album “Jazz Funk” di tahun 1981, disusul dengan album album berikutnya yang jaraknya sekitar satu sampai dua tahun, sampai di tahun 2008 dengan album “Tales From The Beach”. Semuanya boleh dibilang mencetak angka penjualan yang cukup fantastis untuk sebuah grup jazz.
Gonta ganti personil dalam sebuah band merupakan hal yang wajar terjadi dalam industri musik. Tak terkecuali pada Incognito. Sempat terjadi pergantian vokalis mulai dari Pamela Anderson (bukan yang kemana mana bawa “pepaya bangkok”, mikir mode!), Joy Malcolm, Barry Stewart, kemudian Maysa Leak dan terakhir Kelli Sae, Sarah Brown, Nia, dan Xavier Barnett. Pergantian perganian personil ini tidak membuat Incognito kehilangan sentuhan istimewa pada musik yang mereka mainkan.
Album terbaru Incognito yang dirilis bulan Februari kemarin berjudul “Tale From the Beach”. Ada berita yang mengatakan bahwa untuk mendapatkan inspirasi dalam membuat album ini, Bluey Maunick, gitaris sekaligus motor Incognito, pergi ke beberapa pantai favoritnya. Padahal tercatat sejak tahun 2007, Incognito manggung di lebih dari 25 negara di dunia. Masih sempet ya si Bluey jalan-jalan nyari inspirasi… Nah, kabarnya, lagu-lagu di album ini direkam di beberapa negara yaitu: Itali, jerman, Inggris dan Indonesia, bahkan dimixed di JAKARTA. Album ini berisi 15 track yang seger dan cukup enak buat goyang goyang. (dangdut kaleee!). Kalo kita dengerin jadi berasa kaya di pantai kali ya.. …
Racikan musik yang mengekspresikan sebuah kebebasan bermusik selama perjalanan kurang lebih 30 tahun membuat Incognito tetap eksis di jalurnya dan selalu maju dan menemukan hal hal baru dalam meramu nuansa dari sekian banyak musik. Incognito ingin menyampaikan bahwa suatu pesan dalam musik adalah sesuatu yang lebih penting dibandingkan dengan individu yang memainkannya. Dan perubahan perubahan yang mereka lakukan dalam setiap albumnya snegaja mereka lakukan agar penggemar mereka selalu penasaran denagn album albumnya.
(Thx buat Andri yang udah bantuin nulis)
Entry Filed under: Music. .
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed